artikel comotan…
beberapa hari ini gw pusing bgt, kenapa ya???…
http://www.jalidin.com/?pilih=lihat&id=21
Pusing Bisa Pertanda Infeksi di Otak
Rabu, 13 April 05 - oleh : admin
Virus Menyerang Saat Daya Tahan Tubuh Lemah
Pusing dan sakit kepala yang sering muncul jangan dianggap remeh. Pusing tidak selalu tanda mau sakit flu atau masuk angin. Apalagi bila kemunculannya terlalu sering. Sebab pusing dan sakit kepala juga merupakan gejala terjadinya infeksi di otak. Bila tidak cepat diatasi bisa berakibat fatal.
Semula, Titi, 50, tidak menganggap serius keluhan anaknya, Dani, 26, yang baru pulang dari tempatnya bekerja. Dani mengaku pusing hebat. Memang, Bu Titi mendapati suhu badan Dani agak hangat namun tidak terlalu signifikan. ”Hanya hangat-hangat sedikit,” ujar Titi.
Menurut Titi, pusing dan sakit kepala memang sering dikeluhkan Dani. Dan setelah diberi obat pereda sakit kepala, pusing pun hilang, lalu muncul lagi. Namun sebulan terakhir, rasa pusing, demam, dan sakit kepala Dani, kata Titi, memang semakin kerap dikeluhkan. Hingga suatu hari Dani merasakan pusing sangat hebat.
Titi pun memeriksakan Dani ke dokter. Hasilnya, ia didiagnosis menderita vertigo. Usai menebus obat yang diresepkan dokter, Dani pun pulang.
Sebenarnya, Titi yang seorang perawat di klinik sebuah perusahaan swasta merasa curiga dokter salah mendiagnosis. Pasalnya, menurut sepengetahuannya vertigo biasa menyerang orang di usia 40-an tahun ke atas, sementara Dani baru menginjak usia 26 tahun. Beberapa hari kemudian kecurigaan Titi terbukti.
Ditunggu tiga hari, meski sudah mengonsumsi obat yang diresepkan dokter, kondisi Dani tidak membaik, bahkan bertambah parah. Tiap kali membuka mata, Dani merasakan pusing hebat sampai akhirnya ia koma. Titi pun membawa Dani ke rumah sakit. Tetapi karena hasil CT Scan (Computed Tomography Scan) menyatakan tidak menemukan kelainan, Dani disarankan menjalani pemeriksaan melalui MRI (Magnetic Resonance Imaging) dan harus pindah ke ruang ICU RS Pertamina.
Ternyata, hasil MRI di RS Pertamina juga tidak menemukan kelainan, neurolog (dokter spesialis penyakit saraf) yang menanganinya, menyarankan Dani menjalani pemeriksaan cairan sumsum tulang belakang. Namun, pemeriksaan tersebut juga tidak membuahkan hasil. Dani yang masih dalam keadaan koma sempat mengalami kejang-kejang hebat. ”Seluruh tubuhnya bergetar hebat,” ujar Titi.
Baru setelah darah Dani diperiksa di lab parasitologi RSUPN Cipto Mangunkusumo, didapati adanya virus sejenis herpes yang menyerang bagian otaknya. Untuk itu, Dani harus diberi antibiotik khusus.
Obat antibiotik yang harus diimpor dari luar negeri tersebut cukup mahal. Untuk satu kali dosis pemberian, Titi harus mengeluarkan biaya lebih dari delapan juta rupiah. Padahal, Dani harus mendapatkan tiga kali dosis pemberian. Obat tersebut diberikan selama tiga hari melalui infus.
Meski mahal, Titi tidak pernah menyesal menggunakan obat tersebut. ”Karena obat itu memang ampuh, sore diberikan, pagi harinya Dani langsung sadar dari komanya selama 11 hari,” ujar Titi.
Setelah menghabiskan tiga kali dosis pemberian, kesehatan Dani mulai pulih, namun kondisi matanya juling, dan mulutnya tidak simetris. ”Seperti orang kena stroke,” ungkap Titi.
Kini Dani sehat, dan normal seperti sedia kala. Jiwanya terselamatkan, karena tindakan dokter tepat dan cepat. Namun ada banyak orang yang mengalami kasus seperti Dani tidak terselamatkan. Gejala pusing, demam sering dianggap biasa, dan ketika jatuh pingsan hingga koma, mereka menganggapnya terkena darah tinggi atau stroke. Tetapi mereka tidak percaya ketika kasus itu menimpa orang yang usianya di bawah 30 tahun.
Daya tahan lemah
Berbagai jenis virus, bakteri atau kuman berukuran mikroskopis secara alamiah memang banyak terdapat di udara dan lingkungan sekitar kita. Sewaktu-waktu, makhluk yang dapat menjadi parasit bagi manusia itu bisa menyerang pertahanan tubuh yang sedang lemah.
Menurut ahli neuroendokrin dan neuroimunologi bagian saraf RSUPN dr Jan Purba, salah satu penyebab utama menurunnya ketahanan tubuh adalah meningkatnya stres serta kurangnya asupan gizi bagi tubuh. Akibatnya, tubuh menjadi rentan terhadap berbagai serangan dari luar termasuk serangan virus.
Menurut Purba, pada saat stres, produksi hormon kortisol akan meningkat dan menyebabkan sistem pertahanan tubuh melemah. Ini disebabkan oleh menurunnya kegiatan sel makrofag yang merupakan bagian pertahanan tubuh. Kegiatan sel-sel makrofag menurun karena tidak seimbangnya jumlah hormon kortisol. Pada akhirnya keseimbangan metabolisme pun terganggu dan tubuh mudah diserang oleh penyakit.
Selain stres, faktor yang mengakibatkan menurunnya pertahanan tubuh adalah kurangnya asupan makanan bergizi. Kalori yang cukup, sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan mengaktifkan sistem pertahanan tubuh.
”Virus, seperti virus herpes, atau influenza dapat menyerang jaringan otak atau selaput otak. Mengakibatkan radang jaringan otak (enchepalitis) serta radang selaput otak (meningitis). Serangan virus umumnya terjadi pada saat pertahanan tubuh sedang lemah, karena itu penyakit seperti enchepalitis sering menyerang penderita HIV/AIDS yang tidak memiliki daya tahan tubuh baik,”jelas Purba kepada Media Sabtu (9/4).
Selain itu, lanjutnya, ada juga virus Pan enchepalitis yang menyebabkan gejala-gejala seperti epilepsi. Sedangkan meningitis dapat terjadi akibat perubahan lingkungan secara tiba-tiba yang mengakibatkan peningkatan hormon kortisol. Salah satu contohnya, perubahan temperatur yang kontras. Itulah sebabnya banyak kasus meningitis pada jemaah haji.
Lebih lanjut, Purba mengatakan, virus yang menyerang otak dapat masuk ke dalam tubuh melalui transfer darah, suntikan, ataupun virus yang sudah ada dalam tubuh kembali terpicu ketika kekebalan tubuh sedang turun. Infeksi juga dapat terjadi melalui udara.
Kelompok yang rentan terserang virus penyerang otak ini, lanjut Purba, kaum lansia, anak-anak, penderita penyakit kronis serta penderita HIV/AIDS atau yang sedang mengalami penurunan daya tahan tubuh, serta penderita gizi kurang.
Potensi kematian pada penderita sebenarnya tergantung di bagian mana virus itu menyerang. Jika virus menyerang bagian-bagian vital dari otak, akibatnya akan fatal. ”Apabila yang terserang adalah sistem imunitas, ada kemungkinan tidak ada potensi untuk sembuh kembali,” papar Ketua Perhimpunan Neuro Sains Indonesia ini.
Namun, katanya, jika yang terserang bukan bagian vital, potensi untuk sembuh masih tinggi. Pemberian obat antivirus, imunomodulator serta peningkatan gizi akan kembali memulihkan tubuh. Purba mengatakan, tidak diperlukan operasi untuk mengatasi serangan virus terhadap otak ini. Operasi riskan untuk dilakukan karena ada kemungkinan dapat mengenai jaringan saraf yang lain di dalam otak.
Ketika ditanya kemungkinan seseorang terserang untuk kedua kalinya, Purba mengatakan peluang itu bisa terjadi jika stamina tubuh pasien turun. Untuk itu, kata Purba lagi, sistem pertahanan tubuh harus terus dijaga agar penyakit yang pernah diderita tidak kambuh. Penyakit akan sembuh total jika penderita terus mengontrol kesehatannya dan segera mengantisipasi saat gejala timbul kembali.
***)Media Indonesia - Nik/CR-48/H-1
dari website: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=235934&kat_id=298
(mohon maaf pada pihak Republika apabila saya blm ijin)
Pusing
Pusiiinggg, pusiiinggg. Pusing atau sakit kepala bisa menimpa siapa saja. Ya, dewasa, orang tua, atau pun anak-anak, mungkin pernah merasakan pusing. Bagaimana dengan kalian? Mudah-mudahan belum pernah merasakan sakit kepala.
Sakit kepala sangat mengganggu kegiatan kita. Kepala rasanya berat dan terkadang mau muntuh, sehingga kita tidak bisa mengerjakan sesuatu. Istirahat atau tidur merupakan aktivitas yang biasa dilakukan penderita pusing dalam menenangkan suasana.
Bagaimana pusing bisa terjadi? Penyakit pusing muncul karena panas di bagian kepala dan semacam demam yang terjadi karena berkumpulnya uap di bagian kepala. Uap ini berusaha menembus keluar, tetapi tidak bisa. Karena tidak bisa, maka timbulah pusing.
Pusing yang biasa terjadi pada manusia, dikenal dua jenis. Pertama, migrain. Ini biasanya hanya menyerang separuh kepala. Jika kita menderita migrain, kepala rasanya akan pecah dan mau muntah. Jenis pusing kedua adalah pusing helm, yang berarti menyerang seluruh bagian kepala.
Teman-teman, tahu kah kalian penyebab pusing? Pusing bisa muncul karena banyak sebab, di antaranya kalau kita telalu kenyang. Makanan yang masuk ke lambung terlalu penuh sehingga tidak bisa diolah. Akibatnya kepala pun pusing. Tapi, sebaliknya, pusing pun bisa muncul karena lapar. Uap perut tidak lagi bisa beraksi, sehingga akhirnya naik ke otak dan menyebabkan rasa sakit.
Kurang tidur atau sering bergadang serta suhu udara yang panas juga bisa menyebabkan pusing, lho. Suhu udara yang dingin pun dapat menimbulkan pusing. Sebab kalau udara terlalu dingin, uap di kepala menjadi padat sehingga tidak menemukan jalan ke luar. Banyak lagi sebab-sebab terjadinya pusing.
Teman-teman, kalau kita sudah tahu beberapa penyebab terjadinya pusing, tentu kita akan berusaha menghindarinya, agar penyakit itu tidak sampai menimpa kita. Namun, kalau pusing sudah menyerang, mungkin kita bisa menyembuhkannya, antara lain dengan memakan obat penghilang rasa sakit, tiduran di kamar gelap, atau dikompres dengan air dingin.
Dear Ibu Titi dan Dani,
Saya telah membaca cerita Ibu
Titi mengenai sakitnya Dani, kebetulah adik saya umur 35 thn mengalami gejala penyakit yang sama dg
Dani, tapi sy tdk begitu persis tahu apa jenis penyakitnya(sy rasa sama dg Dani) memang adik sy sembuh dan selamat dari maut setelah beberapa kali keluar masuk rumah sakit dg sebelumnya pingsan. Yang menjadi pertanyaan saya adalah bagaimana cara menyembuhkan juling nya. karena sampai sekarang dia masih juling dan sebelah kakinya masih sangat lemah. Apa tindakan dokter untuk menyembuhkan juling tersebut?
Atas perhatian Ibu Titi dan Dani untuk memberikan waktu menjawab pertanyaan saya ke email saya, saya ucapkan ribuan terima kasih.
saya abe usia 24 th saya sering pusing2 apbil dalam situasi yang mendesak apabila kaget tapi itu cuma pusing seperti kunang -kunang,ini sudah di alami sangat lama pada awalnya saya anggap seperti biasa,tapi kelama-lamaan dapat mengganggu aktifitas saya, pertanyaan saya
1. apa itu sebuah penyakit?
2. apa ada obat yang bisa di sembuhin?
sekian terima kasih
salam,bu’…
sepupu saya juga mengalami hal yang seperti anak ibu derita. tetapi sekarang masih dalam perawatan di rumah sakit. kondisinya masih belum stabil….
saya ingin bertanya,
1. berapa lama kah masa penyembuhannya?
2. apakah ada efek lain dari penyakit ini yang menyerang saraf motoriknya pada saat masa pemulihan dan berapa lama proses itu berlangsung?
3. apakah ada kemungkinan efeknya akan timbul secara permanen?…
atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih
salam,